Tulisan ini tidak memiliki topik

Akhir-akhir ini, atau lebih tepatnya beberapa bulan ini aku mengunjungi kembali hal yang dulu aku suka. Aku mulai menonton film di situs bajakan, dengerin musik dari penyanyi lama dan main game.

Rasanya seperti bernostalgia dengan lapisan diriku yang lain, seperti mengingat sesuatu yang sebenarnya nggak pernah beranjak dari diriku tapi seringkali aku melupakannya.

Kadang ketika aku merasa dilema atau bimbang dalam mengambil keputusan, aku sadar bahwa ada lapisan diriku yang belum aku coba temui.

Semakin bertambah usia, alias semakin tua, aku merasa seperti dua kutub magnet yang berbeda. Satu kutub membuatku nggak pernah bisa mengenali diriku sendiri, sedangkan kutub satunya merasa aku seperti kaca tembus pandang yang transparan dan tidak pernah berubah.

Aku dulu berpikir bahwa semakin dewasa manusia, kita harus semakin konsisten dalam pikiran, punya prinsip, punya semacam guidelines dalam menjalani kehidupan ini.

Namun rasanya… itu semakin membatasi lingkup pikiranku sendiri. Aku sampai di titik di mana aku rasa kalau pikiranku 10 tahun yang lalu dengan pikiranku saat ini masih sama, artinya aku gagal atau lambat dalam berkembang. Bahwa pikiran memang seharusnya akan mempunyai bentuk yang berbeda-beda tiap tahun. Justru ketika aku sadar kenapa pikiranku berbeda, apa yang membuat berbeda dan bagaimana pikiran aku bisa berbeda seiring berjalannya waktu yang justru menjadikanku hidup.

Di pertengahan tahun ini aku berhasil melakukan hal-hal baru yang sepertinya diriku di tahun lalu hanya bisa membayangkan. Mulai perhatian dengan diriku sendiri, mencoba memprioritaskan diriku dan menggali pikiranku. Kedengarannya dangkal tapi toh hidup memang hanya lapisan terluar yang nampak.


Thank you!

for visiting my playground

Thank you!

for visiting my playground

Create a free website with Framer, the website builder loved by startups, designers and agencies.